Unable to Connect to Internet

Pernah lihat gambar dibawah ini? Gambar dinosaurus akan muncul ketika anda tidak dapat tersambung dengan jaringan internet “unable to connect to the Internet”.  Tidak ada koneksi untuk bisa online, resikonya bisa punah seperti yang dialami oleh satwa purba ini. Begitu ekstrim digambarkan, atas peradaban manusia modern saat ini. Disaat setiap hari banyak orang membutuhkan Facebook, Twitter, YouTube, e-mail dan puluhan situs lainnya yang telah menjadi konsumsi banyak orang setiap hari. Terutama nettizen, mulai dari anak sekolah, mahasiswa hingga untuk menjalankan aktifitas kantor dan dagang. 

Promosi Online

Dunia berubah terlalu cepat, dulu ada Yellow Pages, akhirnya hilang ditelan jaman karena tidak dapat beradaptasi dengan teknologi internet yang berubah drastis. Koran cetak dan majalah, oplahnya menurun ekstrim terutama sejak jaman iPad dan Tablet. Dulu hanya ada YM, disusul BBM kemudian lahir WhatsUp, Line dan banyak lagi.

Kondisi ini juga semakin dirasakan oleh pemilik bisnis yang bekerja secara tradisional, dagang dengan sistim konvenional. Sebagian pelaku usaha memadukannya dengan internet marketing hingga sosial media marketing. Ada yang dibuat dibuat asal jadi karena tidak paham, banyak juga yang dikerjakan dengan cara profesional. Ketika mereka begitu mudahnya ditemukan di internet terutama Google, secara otomatis mereka akan mendapatkan pelanggan baru, peningkatan market share dan omzet secara signifikan.

Pemilik Website dengan bisnis yang ditawarkan dan situs yang dikelola berada pada halaman utama Google, secara konsisten akan mendapatkan leads, propsek potensial yang akan membeli produk atau jasa yang dipasarkan. Mulai dari cetak foto online atau pesan makanan online, tiket online, sewa kamar hotel online hingga jual properti, motor dan mobil melalui internet. Toko online fashion dan gadget sudah terlebih dahulu ada di sana, persaingannya bahkan begitu sengit. Portal dan situs raksasa milik asing bahkan hadir di Indonesia, mendominasi market bahkan mengambil market pedagang retail yang dulu ada di Glodok dan Mangga Dua.

Memiliki Website atau membuat Web dengan harga murah meriah gampang ditemukan di internet atau di forum forum. Tetapi memastikan situs mudah ditemukan di situs pencari, mendapat pengunjung setiap hari, hanya ahli SEO yang memahami cara berfikir search engine yang dapat melakukan itu dengan sempurna.

Orang orang IT atau Web developer bukanlah internet marketer, mereka bisa jago membuat Website dan hal hal yang berbau teknikal. Internet terputus, mereka tau cara mengatasinya, tetapi mereka bukan internet marketing yang terlatih memikirkan bagaimana caranya agar Website dapat dibangun menjadi alat pemasaran yang tepat sasaran. Dicari oleh pengguna internet dan tiba pada situs milik klien. Hanya internet marketer sejati yang memahami itu, kemudian beradaptasi menjadi konsultan pemasaran online dengan segudang ilmu dan pengalaman panjang. Berpengalaman membangun Web agar disenangi oleh situs penjejak hingga mudah ditemukan diantara ribuan atau jutaan halaman sejenis di internet.

Bukan hanya itu, bila beberapa Website dengan bisnis sejenis sama sama dioptimasi oleh pelaku jasa SEO pemula atau professional, itu juga akan menentukan siapa yang akan jadi pemenang. Biasanya pemula hanya memikirkan keywords berbeda dengan ahli SEO yang memikirkan seluruh Website hingga kualitas pengunjug yang tepat sasaran.

Ingin diskusi lebih jauh tentang search engine marketing, silahkan hubungi kami Master SEO Indonesia akan memaparkannya, mulai dari cara membangun situs bisnis di era Web 2.0 yang sangat dinamis dan kreatif. Kami dapat memulainya dari awal, mulai dari pemilihan nama domain yang tepat, merekomendasikan hosting yang dapat diandalkan, membangun Web (Website Building), merekomendasikan designer dan developer, memilih platform ideal serta mengintegrasikannya dengan berbagai kanal (channel).

"What troubles me is the Internet and the electronic technology revolution. Shyness is fueled in part by so many people spending huge amounts of time alone, isolated on e-mail, in chat rooms, which reduces their face-to-face contact with other people".  Philip Zimbardo